Profesor "Galo-Galo" Ngasih Kuliah di Kampar, Zainul Makin Semangat Beternak Galo-galo 

Profesor "Galo-Galo" Ngasih Kuliah di Kampar, Zainul Makin Semangat Beternak Galo-galo 

TAMBANG (SK) - Ada kebahagiaan tersendiri yang dirasakan Zainul Azis, salah seorang peternak galo-galo atau kelulut di Desa Sungai Pinang, Kecamatan Tambang. Sebab dihadiri Ahad (14/1/2018) kemarin ia kedatangan tamu yang juga sahabat sesama peternak galo-galo. Bahkan salah satu diantaranya adalah Guru Besar Universitas Andalas Padang Prof Siti Salmah Idrus.

Kepada suarakampar.com di rumahnya yang tampak asri dan hijau karena ditumbuhi tanaman buah-buahan, Selasa (16/1/2018), Zainul menyebutkan, pertemuan itu adalah semacam ngumpul bareng Komunitas Kelulut Sumatera yang dilaksanakan di kediamannya di Desa Sungai Pinang Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar.

Selain kehadiran Profesor  Siti Salmah Idrus, turut hadir peternak kelulut Maya Masri dari Salo, Frans Domo dari Kuok, Muhammad Lutfy dari Darmasraya, Sumbar, Sendi Nuari yang dikenal dengan akun fb Atook Honey dari Duri, Desri Hamzah dari Kampar, Dolby Dody dari Rumbio, dan puluhan peternak kelulut yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota di Riau. 

Sang Profesor,  Siti Salmah Idrus adalah peneliti dan ahli dibidang lebah tak bersengat ini bersilaturahmi sekaligus memberikan ilmu serta presentasi seputar jenis lebah tak bersengat yang dikenal dengan nama Tigona ini.

Dalam pemaparannya, Siti Salmah Idrus mengatakan, dirinya sudah melakukan penelitian terhadap jenis trigona yang ada di Indonesia sejak tahun 1986 silam. Banyak sekali ditemukan spicies trigona yang dapat dipelihara dan menghasilkan madu.
 
"Bahasa Minang dan Kampar dikenal dengan nama galo-galo. Orang Melayu menyebutnya dengan kelulut. Orang Jawa mengenal dengan nama Kalnceng dan orang Sunda menyebutnya dengan nama teuwel," ujar wanita yang sudah berusia 76 tahun ini.

Siti Salmah Idrus menambahkan, dirinya sangat bangga jika saat ini apa yang dia teliti dipelihara oleh masyararakat. Menghasilkan madu dan dapat pula meningkatkan perekonomian masyarakat. Namun Siti Salmah Idrus juga merasa khawatir bila kekayaan alam tersebut dieksploitasi bahkan dijual ke luar daerah bahkan ke luar negeri.
 
"Ada yang memang membudidayakannya untuk kepentingan produksi madu. Ada pula yang sekedar menjual log (sarang galo-galo-red)," ujarnya.

Dia mendapat informasi, di daerah pesisir Riau, banyak warga yang mencari log untuk dijual ke Malaysia dengan harga murah. Di Malaysia, kata dia, log kelulut sangat berharga. Sebaiknya, kata Siti Salmah Idrus galo-galo itu dibudidayakan bukan dieksploitasi sedemikian rupa.
 
Profesor Siti Salmah Idrus hadir didampingi suaminya Profesor Idrus, seorang guru besar Unand Padang dengan keahlian tentang Kumbang. Kedua pasangan profesor ini sengaja datang untuk menemui para peternak galo-galo di Kampar. 

Hadir juga pada kesempatan itu, salah seorang muridnya Adri yang tak kalah hebat pengetahuannya tentang perlebahan.

 Di hadapan member Group Komunitas Kelulut Sumatera Adri mengatakan, Bunda Siti, sapaan akrab Siti Salmah Idrus merupakan satu-satunya guru besar tentang sektonomi yang ada di Indonesia. "Kita beruntung punya guru besar seperti beliau. Mau berbagi ilmu dengan ikhlas kepada kita yang jauh-jauh datang dari Padang," ujarnya.

 Adri mengatakan, di Malaysia yang sudah lebih dulu membudidayakan kelulut sangat menghormati dan membanggakan Bunda Siti. "Orang Malaysia mengundang dan menyambut dengan meriah kehadiran Bunda Siti," ujarnya. 

Di Malaysia, kata Adri, peternak kelulut lebih maju dari Indonesia karena pemerintah kerajaan Malaysia ikut terlibat untuk memajukannya. Bahkan di negeri jiran itu, kata Adri, sudah ada akademi yang mengkhususkan soal kelulut. Para peserta terlihat antusias mendengar pemaparan dua nara sumber itu. 

Bahkan menurut Makmur Hendrik dari Darmasraya, Sumbar, dirinya tidak sia-sia hadir ke Sungai Pinang, Tambang Kampar, karena dapat berjumpa dengan Ibu Siti Salmah Idrus.
 
"Nama beliau sudah sangat familiar di kalangan peternak kelulut. Karena beliau sering memberikan pendapat atau komentar di group facebook Komuniatas Kelulut Sumatera. Kami baru kali bertatap muda dengan beliau, tapi pendapat-pendapatnya sering kami ikuti di facebook," ujarnya antusias.(Akhir Yani) 

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Komentar Terakhir

  • angeltorrent.com

    http://angeltorrent.com/ https://angeltorrent.com/search/all/danejones+my+girl/ ...

    View Article
  • brdmucky

    Although this could be due to other medical conditions, it is a telltale sign of ...

    View Article
  • bbxApeva

    Male breast cancer in Cowden syndrome patients with germline PTEN mutations. Begin ...

    View Article
  • bynIsons

    Abdominal wall, umbilicus, peritoneum, mesenteries, omentum, and retroperitoneum. If ...

    View Article