Ekonomi Masyarakat Lumpuh karena Jalan Rusak, Cerita Kades Lubuk Bigau Menyesakkan Dada

Ekonomi Masyarakat Lumpuh karena Jalan Rusak, Cerita Kades Lubuk Bigau Menyesakkan Dada

BANGKINANG (SK) – Meski telah menjerit berkali-kali dan diekspos media, namun tampaknya kerusakan infrastruktur jalan provinsi di sejumlah desa di Kecamatan Kampar Kiri Hulu masih terbaikan.

Belum ada penanganan serius. Kondisi ini membuat ekonomi masyarakat menjadi lumpuh karena hasil pertanian sebagai sumber utama keuangan keluarga tidak bisa dijual. Keadaan semakin parah karena harga kebutuhan pokok ikut melambung tinggi.

Kepala Desa Lubuk Bigau, Rinas saat menyampaikan keadaan masyarakatnya kepada suarakampar.com Rabu (10/1/2018) mengungkapkan bahwa kondisi ini telah dialami masyarakat di Kampar Kiri Hulu seperti di Desa Lubuk Bigau, Kebun Tinggi, Tanjung Permai, Pangkalan Kapas dan desa lainnya di sekitar itu setiap tahunnya. 

Sulitnya keuangan membuat masyarakat terpaksa berhutang ke pemilik warung untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Apabila musim hujan datang, masyarakat pasti cemas karena akses jalan provinsi di daerah itu pasti rusak, berlumpur dan sering terjadi longsor. Ruas jalan Lipat Kain-Lubuk Agung dan Lubuk Agung-Batas Sumbar ini pada umumnya masih jalan tanah.

Rinas mengungkapkan, kondisi jalan saat ini tak bisa dilewati mobil. Menggunakan kendaraan roda dua pun harus berhati-hati. 

Ia berencana akan membuat surat ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kampar  tentang kondisi jalan di wilayahnya karena sudah sebulan ruas jalan ini tidak bisa dilewati mobil. “Macam apa kami membawa hasil tani kita, jalan tidak bisa dilewati, ekonomi kami lumpuh saat ini,” kata Rinas.

Ia mengungkapkan beberapa titik kerusakan di ruas jalan yang berada dalam kawasan hutan ini yakni longsor di antara Desa Batu Sasak dengan Lubuk Bigau. Kemudian jembatan rally di Batu Sasak juga tidak bisa dilewati mobil.

“Waktu banjir kemarin membuat jembatan di sebelah hilir bengkok. Tahun dulu jembatan ini juga bengkok, tapi untuk perbaikannya masih bisa gotong royong masyarakat empat desa dibantu masyarakat Batu Sasak,” ungkap Rinas.

Lebih lanjut Rinas mengungkapkan, jika infrastruktur jalan di Kampar Kiri Hulu ini terutama tidak dibenahi dengan serius maka setiap tahun keluhannya akan seperti ini.

“Sumber ekonomi masyarakiat kita memotong (menakik karet) pak. Hasil karet ini yang tidak bisa dibawa keluar. Ini sudah lebih kurang sebulan, selama musim hujan,” ungkapnya.

Agar hasil pertanian di daerah ini tetap bisa dijual, petani rela menjual karetnya dengan harga murah, hanya Rp 3.000 perkilogram. Jauh lebih murah dari harga rata-rata di Kabupaten Kampar saat ini sekitar Rp 6.000 perkilogram.

“Sekarang bisa keluar karet kami lewat Tanjung Permai, keluarnya di Buluh Kasok, Sumbar. Untuk membawa karetnya pakai garendong, pakai motor. Tapi biaya angkutnya mahal, sampai seribu lima ratus rupiah perkilo,” terang Rinas.
 
Karena jalan rusak begitu parah, para pedagang atau toke kini jarang yang mau membeli karet warga.
 
Persoalan lain yang dihadapi masyarakat saat ini kata Rinas adalah melambungnya harga kebutuhan pokok. Sebagian besar bahan makanan pokok dipasok dari Sumbar karena kondisi jalan ke Lipat Kain sangat parah. Harga beras perkilogram saat ini mencapai Rp 15.000/kilogram, sementara harga rata-rata Rp 13.000/kilogram.

Begitu juga dengan pelayanan kesehatan. Jika ada masyarakat yang tidak bisa ditangani dengan tenaga medis di desa, untuk membawa pasien harus dibawa dengan menggunakan sepeda motor, berboncengan tiga, bahkan ada saatnya pasien ditandu karena medan yang dilewati sangat sulit.(Akhir Yani)

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment